undefined
undefined

Cuaca2 teraneh di dunia  

Posted by roh_biru7 in ,


1. Sea Monster or Spinning Water?
Monster Loch Ness mungkin hanya pusaran air yang terlalu aktif. Angin puyuh kecil, biasanya disebut water devil, bisa terbentuk diatas air hangat, membawa air ke atas dan membentuk semacam saluran di atas permukaan air.
Water devil ini bisa berputar-putar tak beraturan, kadang mengeluarkan suara desis dan blekutuk blekutuk (ada yang ngerti blekutuk-blekutuk? Hehehe. Suara semacam buble gitu lah). Suara berisiknya ini ditambah bentuk seperti leher yang panjang bisa memberi kesan orang yang melihat bahwa ada monster laut mulai muncul mau makan


2. Ice Fall / Bomb
Banyak orang yang pernah merasakan berada di tengah badai besar tahu mengenai bongkah atau potongan es , biasanya besarnya tidak lebih dari bola softball, yang berjatuhan dari awan badai. Tapi jarang yang menjumpai ukuran lebih besar dari bola softball (rekor seberat 80 pon) jatuh dari langit, membuat orang terkejut lalu hancur berkeping-keping waktu sampai ke tanah.
Yang lebih misterius bongkah raksasa kadang jatuh padahal tidak ada awan di langit. Beberapa kejadian mungkin tercatat jatuh dari pesawat, tapi lebih banyak yang tidak diketahui apa penyebabnya

3. St. Elmo’s fires

4. Sprites, Jets and Elves, Oh My!

Selama bertahun-tahun, para pilot telah melaporkan melihat kilatan cahaya berwarna aneh dari puncak awan badai, biasanya banyak yang sangsi, tapi sekarang ilmuwan sudah menemukan bukti bahwa tipe petir aneh ini benar-benar ada. Peri merah (red sprites) adalah kilatan cahaya merah yang naik setinggi 50 mil diatas bumi, biasanya muncul berbarengan 2 atau lebih.
Sepupu mereka blu jet, adalah sinar kebiru-biruan berbentuk kerucut yang letaknya di atmosfir lebih rendah dari peri merah. Terjadi pada saat berbarengan dengan peri merah adalah elves, berbentuk kue dadar yang menyala merah terbentuk dari panasnya petir.

5. Raining Fish and Frogs

Dari California ke England ke India, orang-orang secara berkala melaporkan adanya hujan aneh. Hujan binatang-binatang kecil semacem ikan, kodok, ular kadang-kadang terjadi tanpa diduga, bahkan jauh dari area perairan loh. Tornado di atas air bisa berputar dan membawa serta air, dan apapun yang ada didalamnya, ke atas awan. Angin yang kuat bisa membawa muatan ini ke jarak yang jauh sebelum membuangnya diatas orang-orang yang tidak terduga.

undefined
undefined

150 ungkapan cinta bwt 3  

Posted by roh_biru7 in

1. Afrikaans - Ek is lief vir jou
2. Albanian - te dua
3. Alentejano (Portugal) - Gosto De Ti, Porra!
4. Alsacien (Elsass) - Ich hoan dich gear
5. Amharic (Aethio.) - Afekrishalehou
6. Arabic - Ana Ahebak / Ana Bahibak
7. Armenian - yes kez shat em siroom
8. Assamese - Moi tomak bhal pau
9. Assyr - Az tha hijthmekem
10. Bahasa Malayu (Malaysia) - Saya cinta mu
11. Bambara - M’bi fe
12. Bangla - Ami tomakay bala basi
13. Bangladeschi - Ami tomake walobashi
14. Basque - Nere maitea
15. Batak - Holong rohangku di ho
16. Bavarian - tuI mog di
17. Belarusian - Ya tabe kahayu
18. Bengali - Ami tomake bhalobashi
19. Berber - Lakh tirikh
20. Bicol - Namumutan ta ka
21. Bisaya - Nahigugma ako kanimo
22. Bolivian Quechua - Qanta munani
23. Bosnian - Ja te volim (formally) or volim-te Turkish seni seviyorum
24. Bulgarian - As te obicham
25. Bulgarian - Obicham te
26. Burmese - chit pa de
27. Cambodian (to the female) - bon saleng oun
28. Cambodian (to the male) - oun saleng bon
29. Canadian French - Je t’adore (”I love you”)
30. Canadian French - Je t’aime (”I like you”)
31. Catalan - T’estim (mallorcan)



32. Cebuano - Gihigugma ko ikaw
33. Chamoru (or Chamorro) - Hu guaiya hao
34. Cherokee - Tsi ge yu i
35. Cheyenne - Ne mohotatse
36. Chichewa - Ndimakukonda
37. Chickasaw - Chiholloli (first ‘i’ nasalized)
38. Chinese - Ngo oi ney a (Cantonese)
39. Chinese - Wuo ai nee (Mandarin)
40. Corsican - Ti tengu cara (to female)
41. Corsican - Ti tengu caru (to male)
42. Creol - Mi aime jou
43. Croatian - Volim te (used in common speech)
44. Czech - Miluji Te
45. Danish - Jeg elsker dig
46. Dutch - Ik hou van jou
47. Dutch - Jeg elsker dig
48. Ecuador Quechua - Canda munani
49. English - I love thee (used only in Christian context)
50. English - I love you
51. Eskimo - Nagligivaget
52. Esperanto - Mi amas vim
53. Estonian - Ma armastan sind / Mina armastan sind (formal)
54. Ethiopia - afekereshe alhu
55. Faroese - Eg elski teg
56. Farsi - Tora dost daram
57. Filipino - Mahal ka ta
58. Finnish (Minä) rakastan sinua
59. Flemish (Ghent) - ‘k’ou van ui
60. French (formal) - Je vous aime
61. Friesian - Ik hald fan dei
62. Gaelic - Tá mé i ngrá leat
63. Galician - Querote (or) Amote
64. Georgian - Miquar shen
65. German - Ich liebe Dich
66. Ghanaian - Me dor wo
67. Greek - agapo se
68. Greek - S’agapo
69. Greenlandic - Asavakit
70. Gronings - Ik hol van die
71. Gujarati - oo tane prem karu chu
72. Hausa - Ina sonki
73. Hawaiian - Aloha au ia`oe
74. Hebrew - Ani ohevet ota
75. Hiligaynon - Guina higugma ko ikaw
76. Hindi - Main tumsey pyaar karta hoon / Maine Pyar Kiya
77. Hmong - Kuv hlub koj
78. Hokkien - Wa ai lu
79. Hopi - Nu’ umi unangwa’ta
80. Hungarian - Szeretlek te’ged
81. Icelandic - Eg elska thig
82. Ilocano - Ay ayating ka
83. Indi - Mai Tujhe Pyaar Kartha Ho
84. Indonesian - Saya cinta padamu (’Saya’, commonly used, the other is`Aku`)
85. Inuit - Negligevapse
86. Iranian - Mahn doostaht doh-rahm
87. Irish - taim i’ ngra leat
88. Italian - Ti amo/Ti voglio bene
89. Japanese - Anata wa, dai suki desu
90. Javanese (formal) - Kulo tresno marang panjenengan
91. Javanese (informal) - aku terno kowe
92. Kannada - Naanu ninna preetisuttene
93. Kapampangan - Kaluguran daka
94. Kenya (Kalenjin) - Achamin
95. Kenya (Kiswahili) - Ninakupenda
96. Kikongo - Mono ke zola nge (mono ke’ zola nge’)
97. Kiswahili - Nakupenda
98. Konkani - Tu magel moga cho
99. Korean - SA LANG HAE / Na No Sa Lan Hei
100. Kurdish - Khoshtm Auyt
101. Laos - Chanrackkun
102. Latin - Te amo
103. Latvian - Es mîlu Tevi
104. Lebanese - Bahibak
105. Lingala - Nalingi yo
106. Lithuanian - As Myliu Tave
107. Lojban - mi do prami
108. Luo - Aheri
109. Luxembourgeois - Ech hun dech gäer
110. Macedonian - Jas Te Sakam
111. Madrid - lingo Me molas, tronca
112. Malaysia - Saya cintamu / Saya sayangmu / Aku sayang enkow / Sayah Chantikan Awah
113. Malayalam - Njyaan Ninne’ Preetikyunnu
114. Mohawk- Konoronhkwa
115. Navaho - Ayor anosh’ni
116. Norwegian - Eg elskar deg (Nynorsk)
117. Osetian - Aez dae warzyn
118. Persian - Tora dost daram
119. Polish Kocham - Cie / Ja cie kocham
120. Portuguese - Amo-te / Eu te amo
121. Romanian - Te iu besc
122. Russian - Ya vas liubliu / ya liubliu tebia / ya tebia liubliu / Ya polyubeel tebya.
123. Scot - Gaelic Tha gradh agam ort
124. Serbian - LUBim te.
125. Serbocroatian - volim te
126. Shona - Ndinokuda
127. Sinhalese - Mama oyata adarei
128. Sioux - Techihhila
129. Slovak - lubim ta
130. Slovene - ljubim te
131. Spanish - Te quiero / Te amo
132. Srilankan Mama Oyata Arderyi
133. Swahili - Naku penda (followed by the person’s name)
134. Swedish - Jag a”lskar dig
135. Swiss-German Ch’ha di ga”rn
136. Syrian - Lebanes BHEBBEK (to a female) / Lebanes BHEBBAK (to a male)
138. Tagalog - Mahal kita
139. Tamil - n^An unnaik kAthalikkinREn (I love you)
140. Telugu - Neenu ninnu pra’mistu’nnanu
141. Thai - Ch’an Rak Khun / Phom Rak Khun
142. Tunisian - Ha eh bak *
143. Turkish - Seni seviyo*rum (o* means o)
144. Ukrainian - ja tebe koKHAju (real true love)



145. Vietnamese - Em ye^u anh (woman to man) / Anh ye^u em (man to woman)
146. Welsh - ‘Rwy’n dy garu di.
147. Yiddish Ich libe dich
148. Yugoslavian - Ya te volim
149. Zazi - Ezhele hezdege (sp?)
150. Zuni - Tom ho’ ichema
151. Zulu - Ngiyakuthanda!

undefined
undefined

Asal mula nama Indonesia  

Posted by roh_biru7 in

Pada zaman purba, kepulauan Indonesia disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

Bangsa Arab menyebut wilayah yang kemudian menjadi Indonesia Jaza'ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab luban jawi ("kemenyan Jawa"), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil "Jawa" oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah "Hindia". Semenanjung Asia Selatan mereka sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia Tenggara dinamai "Hindia Belakang". Sedangkan tanah air memperoleh nama "Kepulauan Hindia" (Indische Archipel, Indian Archipelago, l'Archipel Indien) atau "Hindia Timur" (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah "Kepulauan Melayu" (Maleische Archipel, Malay Archipelago, l'Archipel Malais).

Pada zaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga "Kepulauan Hindia" (bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.

Nusantara


Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk Indonesia yang tidak mengandung unsur kata "India". Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah PalapaGajah Mada tertulis "Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa" (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi negatif itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu "nusa di antara dua benua dan dua samudra", sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan Indonesia. dari


Nama Indonesia


Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), seorang Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.

Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis:

... the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians


Earl sendiri menyatakan memilih nama Malayunesia (Kepulauan Melayu) daripada Indunesia (Kepulauan Hindia), sebab Malayunesia sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan Indunesia bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Earl berpendapat juga bahwa bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini. Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah Malayunesia dan tidak memakai istilah Indunesia.

Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel The Ethnology of the Indian Archipelago. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah Indian Archipelago terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.

Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan:

Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago



Ketika mengusulkan nama "Indonesia" agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama "Indonesia" dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.

Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air pada tahun 1864 sampai 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah "Indonesia" di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam Encyclopedie van Nederlandsch-Indië tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah "Indonesia" itu dari tulisan-tulisan Logan.

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah "Indonesia" adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).


Politik


Pada dasawarsa 1920-an, nama "Indonesia" yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga nama "Indonesia" akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan. Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan itu.

Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama Indische Vereeniging) berubah nama menjadi Indonesische Vereeniging atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.

Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya,:

Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut "Hindia Belanda". Juga tidak "Hindia" saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.



Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama "Indonesia". Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kini dikenal dengan sebutan Sumpah Pemuda.

Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat; parlemen Hindia Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Hindia Belanda agar nama "Indonesia" diresmikan sebagai pengganti nama "Nederlandsch-Indie". Tetapi Belanda menolak mosi ini.

Dengan pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama "Hindia Belanda". Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah Republik Indonesia.

Sebuah sejarah yang panjang bagi nama negaraku. Mari kita jaga dan pertahankan eksistensi negara ini.